Hutan Mangrove Morosari Demak, Wisata keren namun perlu publikasi

Hari Jumat siang, seperti biasa cukup panas bagiku di kota Semarang ini. Sejak kemarin udah pingin aja pergi ke suatu tempat yang enggak jauh, juga enggak cuman ngemall-mall aja. Akhirnya pilihan jatuh pada budidaya mangrove di morosari demak. Beberapa temen yang sudah pernah kesana sih, tapi saya baru sempet aja kesini. 

Apa mangrove?
Tanaman ini sebenarnya sengaja ditanam di sabuk-sabuk pantai karena hubungannya dengan erosi. Lebih menariknya lagi banyak satwa-satwa seperti bangau yang menjadi habitat magrove itu. Entah apakah yang dimaksud mangrove itu sama dengan bakau.

Di mana letak tempat wisata ini?
Setelah nyari-nyari di berbagai blog dan map, ternyata lokasinya dekat banget di kelurahan Bedono, Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. 

Dari Simpang Lima kota Semarang terhitung 40 menit sampai ke lokasi dengan kecepatan rata-rata 50 km jam naik motor. Oiya lokasi ini lebih cocok jika naik motor saja karena walau dekat tapi jalannya yang jelek dan berlubang, jika ditempuh naik mobil akan memakan waktu yang lebih lama. Pas saya kesana naik Honda Revo dengan berbekal bensin 15 ribu pulang pergi.

Memang wisata ini masih belum terlalu banyak diminati oleh banyak orang, terlihat dari jumlah pengunjungnya yang masih tergolong tidak banyak. Tapi ada yang bikin sedikit ambigu dengan wisata ini. 

Pertamanya saya enggak tau yang namanya menariknya wisata mangrove ini uniknya dimana, menikmati sejenis pantai seperti pantai-pantai biasa, jalan-jalan di hutan mangrove atau naik perahu?

Karena enggak tahu ya udah langsung hajar aja, saya berangkat dengan istri saya naik motor jam 15.00. Berbekal info dari internet (yang ternyata ga berguna sama sekali), perjalanan menuju arah timur yaitu Sayung Demak, sore yang cukup macet karena jam pulang kerja, setelah melewati jembatan kembar,

Gapura kab demak

Tidak jauh dari sana ada masjid megah di kiri jalan yang ada jembatannya, disana ada gapura besar bertuliskan Pantai Morosari. Wah dekat dan mudah sekali petunjuknya, dengan melihat dari papan petunjuknya yang besar dan jelas seperti ini udah terlintas kalau wisata ini cukup dikenal dan dikelola baik oleh pemerintah kabupaten/kota setempat. Amin.

Gapura Selamat datang

Sebelum lebih jauh masuk ke lokasi, saya beli dulu air minum sambil menanyakan ke penjualnya apakah pantai morosari itu masih jauh kiranya. Si mbaknya jawab 15 menit mas. Okeeh deh, mari lanjut, hari sudah semakin sore, kirain saya akan kesulitan untuk dapetin air minum kalau udah masuk ke tempat yang terpencil, ternyata saya salah sepanjang jalan banyak toko dan warung. Warga sekitar situ ternyata banyak yang beraktifitas jual beli dan warungan, ciri khas penduduk pantura.

Setelah seteguk teh pucuk harum mendinginkan tenggorokan yang gerah sejak tadi, saya mulai menikmati jalan yang mulai bergelombang. Ada jalan yang sudah dibeton halus, tapi ternyata saya kecewa karena lebih banyak jalan yang berbatu. Hehehe. 

Jalan berlubang ini mungkin akan menyulitkan jika anda menggunakan mobil sejenis sedan. Ga kebayang kalau saya bawa sedan tadi, bisa-bisa sampainya habis Isya, hehe. Terlihat ada satu mobil dengan ground clearance nya tinggi saja tampak kesulitan. 

Ini belum kalau kondisi hujan, bisa seperti nonton off road. Yah motor masih lebih merajai dijalanan. Kelihatan banget saya pengendara motor dari luar yang berhelm dan berjaket, apalagi berplat AD, semakin membedakan dengan warga sekitar yang berseliweran pakai topi kebalik dan ada juga yang pakai sarung.

Kanan kiri jalan tampak pemandangan air dan tanaman-tanaman semacam bakau atau mangrove. Kanan kiri jalan masih tetap banyak pemukiman. Jalanan masih sempit, mungkin akan kesulitan jika ada dua mobil yang bersimpangan, kudu sabar. Terlihat pengendara motor penduduk setempat yang sepertinya sudah ahli menghindari lubang-lubang jalan karena sudah terbiasa. Sepertinya mereka main merem aja naik motornya karena udah hapal lubang-lubang busuk itu.

Ada papan beginian, emang buat konsevasi mangrove

Setelah melalui jalan yang parahnya minta ampun ini, tiba di sebuah persimpangan jalan, dan terlihat jembatan yang cukup besar berwarna biru. Ini yang bikin sebal dan tidak bertanggung jawab, tadinya ada gapura besar petunjuk pantai, sekarang ini ada perempatan dan ga ada petunjuk barang sedikitpun. 

Iyah, terlalu benar ini pengelola yang sengaja bikin tidak ada petunjuk jalan yang memperjelas tujuan wisata unggulan daerahnya sendiri.

Bahkan sampai sejauh ini juga saya belum terbayang Morosari itu seperti apa.

Dah lah dari pada kaya orang bingung sendiri, mari pakai logika. Saya sendiri bingung logika saya ada di dengkul atau di mana. Logika saya mengatakan kalau ga ada petunjuk kanan atau kiri berarti ya masih terus aja. Tapi emang bener jalan semakin kecil dan menurun sepertinya udah mau sampai. Tapi ternyata masih cukup jauh juga sih perjalanan dan akhirnya tiba di sebuah tempat yang tampak berportal dan ada loketnya.

Disebelah loket nampak ada motor diparkir menandakan ada yang jaga. Nah akhirnya tibalah saya di suatu tujuan, ini lah pantai Morosari. Ohh ternyata benar, morosari adalah pantai, asiik.

Terlihat ada mas-mas bertopi yang jaga loket masuk, ciiit rem depan belakang masih berfungsi baik dan saya berhenti tepat didepan loket masnya jaga. Sambil tangan bersiap-siap meraih dompet, saya tanya “berapa mas?”, si emas menjawab “2 orang 14ribu” 

Oh, ternyata ada tulisannya 7000 per orang. Lalu saya tanya lagi “ini lokasi parkirnya mana mas” maksud hati biar dia agak jelasin dikit. Ternyata sesuai perkiraan saya mas nya jawabnya standar’ “parkirannya bebas mas satu area ini”. 

Saya bingung, soalnya pas saya pingin ke pantai ini seperti di foto facebook pajangan kawan yang foto-foto di antara hutan mangrove, di semacam jembatan panjang. Kok saya gak lihat blas ada area panjang atau jembatan disini. Ya emang gak salah namanya pantai, saya hanya lihat pantai seperti biasa. 

Lokasi yang super sepi dan ga ada gairah wisata kalau saya bilang. Terlihat hanya beberapa pemuda pemudi datang dan nongkrong disebelah motornya dengan tujuan berduaan. Aduh saya jadi bingung. 

Tanya si emas penjaga loket ini kayanya bukan hal yang banyak membantu, tapi bolehlah karena ga ada orang lain. Saya nanya “lo mas hutan bakaunya dimana?”, lalu si mas loket jawab “kalau mau ke hutan bakau naik kapal mas dari sini”. 

Lalu istri saya nanya “berapa naik kapal mas”, si mas loketnya jawab “naik kapal 100ribu”, jawabnya sambil wajahnya ngadep laut, Entah ini tanda apa, pertama pikiran saya sepertinya udah lama gak pernah ada yang naik kapal beginian, dan yang kedua mungkin dia mikir gak mungkin saya minat atau bahkan dia ngira saya gak mampu buat naik kapal 100ribu. “perkiraan dia tepat”

Okelah saya muter dulu area di lokasi pantai, sambil cari-cari yang menarik. Saya lihat parkiran motor yang kosong melompong. Resto yang menjorok ke laut yang ga keurus, dan ada beberapa mainan sepeda air yang tampaknya lusuh lama ga digunakan. 

Hmm menarik nih, ternyata ga ada apa2 disini. Saya nyoba duduk di salah satu sisi area pantai tersebut, wah rasanya malah gak nyaman serasa mau mojok. Masa mojok? gini ga inget umur apa. 

Pantai Morosari

Lalu saya memutuskan untuk mengorek info dari ibu-ibu yang sedang nyuapin anaknya yang sejak tadi saya perhatikan. Hampiri dan sapa “ibuk, kalau mau ke magrove itu lewat mana ya”, saya kira ibunya akan ramah menjelaskan, ternyata sama saja dia menjawab “ke sana naik perahu mas, sewa perahu”. Ah sama saja nih penjelasan ibunya, sama-sama gak bagus, apa mungkin karena raut wajah saya ini macam kertas ditekuk-tekuk. 

Lantas saya berniat keluar dari tempat yang ga ada soul nya itu, males. Sebelum keluar saya lewat loket dan dipaksa-paksain buat tanya lagi masnya walaupun ga mood banget deh, “eh mas, kalau mau ke hutan mangrove yang jalan aja itu liwat mana yah?” dengan lancar dia jawab “disana mas keluar ada jambatan tar kiri, terus sampingnya sini naik motor aja, karena masih jauh jalannya, itu arah makam”. Buset kenapa dia tadi bilangnya naik perahu kalau mau ke mangrove. Jembatan itu kan yang tadi gak ada petunjuknya, sial.

Sialan juga, dia bilangnya kalau kita udah keluar dari situ, kalau misal dia bilang dari tadi mustahil saya bakalan masuk ke pantai itu, apalagi bayar. Bukan maksud saya pelit, tapi saya merasa dibodoin. Emang gada yang salah sama wisata itu, saya aja yang goblog.

Oke, sesuai ancer-ancer yang dikasih masnya tadi ternyata yang harus kita cari adalah arah makam, bukan obyek wisata. Setelah sekali kesasar ke tempat yang tanahnya seperti lahan gambut dan beberapa kali menarik perhatian warga sekitar karena tanya sana-sini, akhirnya ketemu juga arah yang benar, benar seperti yang diharapkan. Untung gak tenggelem ke lumpur hisap karena kesasar tadi.

Arah yang benar
Menuju ke arah makam ternyata ramai, di kanan-kiri jalan banyak toko kelontong, serasa ini wisata yang bener. Mobil hanya bisa sampai parkiran yang masih jauh dari lokasi yang dimaksud. Dan sudah banyak parkiran motor disana, namun sesuai arahan masnya tadi bisa kok naik motor sampai pol, sama seperti info di google, sampai nanti ada batas maksimal motor.

Jalan menuju makam

Ternyata seru juga karena saya harus mengendarai motor yang kanan kirinya laut, dengan jalan beton rusak-rusak dengan lebar 1,5 meter. Banyak juga pemuda-pemudi yang menikmati jalan tersebut dengan berjalan kaki. Sebenernya lebih santai jalan kaki walau masih jauh. Nah setelah melalui banyak rintangan dan uji keseimbangan motor, sampailah ke tempat parkir batas maksimal motor. 

Taraa… sampailah ternyata tempat ya dimaksudkan, yaitu tempat yang kanan kirinya ada hutan mangrove nya. Seger juga hawanya, sore-sore dan banyak sekali pengunjung di situ. Hawanya tambah seger karena banyaknya vegetasi disono. Parkirnya cuma 2000, murah. 

Motor di parkir di atas semacam bambu-bambu yang sengaja di bikin untuk parkiran, karena dibawahnya air. Sepertinya kanan kirinya emang laut, tapi ternyata enggak dalam. Yah ini sebenarnya kawasan yang dulunya pedesaan tapi terkena erosi, sehingga perlu campur tangan pemerintah untuk nanem mangrove ini di sabuk pantai, dari barat ke timur sepanjang pantura. 

Sampai ke tempat yang dimaksud

Banyak banget satwa bangau yang terbang ke sono sini di antara pepohonan bakau. Menarik, suara berkoak burung bangau, hawa segar, pemandangan hijau seakan mengundang manusia untuk berpoto disana. Sangat beda dari perkotaan yang bising, beda dengan suasana pantai yang membosankan. Hanya saja angin pantai yang cukup besar waktu itu.

Satwa dilindungi

Banyak papan larangan di sekitar situ, seperti “dilarang pacaran”, “dilarang bergandengan tangan”. Aneh ya, padahal kan tergantung pada niat, menurutku bergandeng tangan kan hak asasi, apalagi kalau ibu dan anaknya masa ga boleh. Yah tapi bagus juga sih maksudnya, biar gak banyak yang mesum, karena banyak juga penduduk sekitar situ jadi kudu ngehormatin, apalagi disitu nuansanya makam. Oiya yang lain ada papan tulisannya pakai kamera bayar 25000, tapi kalau kamera hape diperbolehkan. Buset mahal amat sekelas candi borobudur guys, padahal hape kan juga ada yang bagus dan lebih mahal dari kamera poket. Mungkin yang dimaksud kamera-kamera yang profesional itu. Kudunya kamera bayar 25 ribu, bawa i-phone bayar 30 ribu itu baru fear, hehe. Tapi kayanya peraturan ini banyak diabaikan, karena ya kurang masuk akal.

Banyak papan pengumuman lucu

Jika jalan ini diikuti terus, nanti sampai jalan ke arah makam. Karena saya gak bermaksud ziaroh makanya gak terus kesana. Saat itu hari jumat sore entah ada rombongan satu desa berbondong-bondong ziarah ke makam.

Jembatan diatas air

Nah wisata ini sebenarnya ambigu. Ambigunya gimana, wisata yang sebenernya adalah pantai, dan kalau mau tambahan advanture, silakan sewa kapal 100.000 rupiah berpetualang ke hutan mangrove diatas air. Mungkin saya bisa bayangin nuansanya tar mirip petualang ilmuwan di acara National Geographic Channel yang lagi meneliti buaya atau satwa liar, keren.

yang ditawarkan wisata sebenernya gini

Namun karena mahal gitu, jalan menuju makam malah ternyata lebih jadi perhatian yang lebih menarik, dan itu juga didukung masyarakat sekitar karena juga menguntungkan mereka desa nya jadi obyek wisata. Diantara keseruan jalan-jalan diantara air laut tadi, dan menikmati hutan mangrove walaupun di jembatan aja. Bayar 2000 rupiah, murah tapi keren. Wisata ini berpotensi, namun sayangnya membingungkan. Selamat mencoba, hehe.