Nekat ke Taman Lele

diambil dari blog Jejak ariestu.

 Mengapa judulnya nekat ke Taman Lele?, soalnya udah banyak yang bilangin saya Taman Lele itu jelek. Gini nih kata mereka “heh nopo meh ning taman lele, elek ndes”, adalagi teman saya yang satu lagi bilang “taman lele meh opo, meh mbojo?”. Intinya temen saya tadi bilang taman lele itu jelek, dan satunya lagi bilang kalau taman lele itu buat mojok pacaran.

 Bahkan gak cuma temen-temen saya di dunia nyata yang bilang taman lele itu ga ada apa-apanya. Berbagai blog di internet pun bilang kalau disana wisata yang kurang diperhatikan pemerintah. Kalau ga percaya googling gambar aja dengan keyword “taman lele semarang”, semua gambar dijamin sepi, gak ada pengunjungnya.

 Walau begitu, yang namanya tempat itu jeleknya seperti apapun, bagi saya sendiri belum pernah sedikitpun berkunjung ke tempat itu. Pernah ada temen saya yang dari magelang tanya tempat wisata taman lele itu mana, saya cuma bisa nunjuk ke arah barat. Digimana-gimanain juga belum pernah kesana. Ini sumber niat saya pengen nyambangi taman lele, karena belum pernah sedikitpun. Padahal tempat wisata yang jauh-jauh pun rela ditempuh.

Lucu lagi, salah seorang teman saya ketika ngobrol, ngakunya dia memasukkan taman lele ke dalam karya tulis skripsinya karena tema penelitiannya adalah tempat wisata. Tapi dia sendiri belum pernah menginjakkan kakinya di sana. Karena polosnya juga ketika dia ditanya dosen pembimbingnya, ngapain juga dia jujur kalau belum pernah kesana. Hahaha…

 Seperti yang sudah-sudah saya putuskan untuk mengunjungi tempat wisata itu, yeah semangat. Singkirkan dulu kata-kata negatif di benak pikiran saya. Sebelum berangkat saya sudah melihat di peta untuk mencari denah lokasi taman lele. Oh ternyata dekat dan dipinggir jalan. Setelah mempersiapkan jaket dan helm serta mengajak istri tercinta, berangkatlah sore itu ke taman lele.

Arah taman lele tepatnya di sebelah barat kota semarang, jalan Semarang-Jakarta, setelah RS tugurejo, kiri jalan kalau dari kota. Malah hampir kelewatan. Agak kecewa sih karena lokasinya terlalu deket, tahu gitu gak usah pakai jaket. Hehe.

 Dari jalan raya terlihat halaman luas dan gapura besar bertulis “Kampoeng Wisata”. Nah inikah taman lele itu? Kesan pertama bagus juga, asri.

Tampak depan

Okelah, hal pertama adalah masuk ke lokasi cari parkiran buat motor. Setelah tengak-tengok sana-sini, disalah-satu sudut halaman sebelah kanan ada motor-motor. Saya pikir ini adalah tempat parkirnya. Tapi kalau ini dibilang parkiran juga motornya terlalu sedikit. Apa gak ada pengunjungnya, sore-sore gini?.  Semakin saya bertanya-tanya.

 

Dihalaman terlihat beberapa kios penjual yang tutup. Hanya satu yang terlihat adalah penjual nasi padang. Oke mari lanjutkan, setelah saya mengikat helem dan jaket di motor, kami berdua berjalan masuk ke area kampung wisata. Disebelah kiri halaman ada tulisan “Hotel Kampoeng Wisata Taman Lele Semarang ooh ternyata ada penginapannya juga yah, nampaknya disetting lengkap oleh pengelola daerahnya.

Ada hotelnya

 Kesan masuk pintu depan, rasanya emang seger banget, karena suasana semacam taman luas, pohon-pohon *pohon apa’an ga mudeng* yang menjulang tinggi, bernuansa hijau, dan banyak vegetasi serasa masuk ke hutan wisata. Disebelah kanan tampak adanya loket, menurut informasi di google, loket masuknya murah hanya 3000 per orang. Saya dekati loket bermaksud untuk membeli tiket masuk, dengan pede nya saya bilang “buat dua orang mas mbak”,, namun *krik-krik* sepi ga ada jawaban. Agak mendekati kaca loket, saya arahkan pandangan agak lebih dalam, oh ternyata dalamnya ruangan kantor yang panjang, terlihat ibu-ibu pakai daster sedang menghadap berlawanan dengan saya. Saya panggil “buk, ibuk”, sambari mengetuk-ketukkan batang kunci Revo saya di kaca, suaranya *tek tek tek tek*, cukup keras.

Nampaknya ibu-ibu itu juga ga dengar, malah metentengin tangan lagi ngomong sama orang lain. Saya malah jadi ragu apa emang bener ini ibunya si jaga loket, jangan-jangan emang bukan tugasnya jaga loket jadi cuek-cuek aja. Saya pikir berarti ini sudah mau tutup atau bebas masuk, karena udah sore. Karena sebel banget dicuekin, saya bablas aja melenggang ke dalam, sambil bilang ke istri saya “tiketnya ga bayar kali, ga ada orang”.

Okelah saya masuk ke dalam kawasan Taman Lele, baru beberapa langkah dipanggil suara ibu-ibu, “mas-mas”. Akupun noleh “eh iyaa buk, ada apa”, belagak bloon. Ibunya bilang “tadi masnya yang ngetuk-mgetuk ya mas?”.

“Oh iya bu,kenapa?” masih belagak bloon. Ibunya bilang, “bayar tiket dulu!”.

 Kampret banget ternyata dia denger saya ketuk-ketuk tadi, kalau denger napa ga langsung respon?, parah banget kesan pertama pelayanan publik disini.

Setelah bayar loket 6000 untuk 2 orang, saya masuk dan mulai ingin menikmati pemandangan yang sejuk ini. Saya gambarin ya suasana disini, ketika masuk lokasi Taman Lele sepi banget, malah ketemu anjing mengenaskan entah piaraan siapa disana, dia ramah menyapa saya sebagai tamu.

 Saya pun menanggapi sapaan anjing lusuh itu, “halo anjing, kamu lagi apa di pojokan?”, setelah saya tanya gitu kok malah perilakunya jadi aneh. Moncongnya ini malah diarahkan ke bagian bokongnya sambil sesekali lihat wajah saya, matanya memelas, bunyinya “nguik-nguik”. Beberapa kali gitu, seakan kalau misal dia manusia dia mau nunjuk pakai tangan di bagian bokongnya, tepatnya kemaluannya. Hei, kayanya aneh banget ni anjing. Gusar banget dia. Saya berpikir apa ada sesuatu di anunya si guk-guk ini, apa dia sakit. Nampaknya dia baik-baik saja, terus napa yah, oohh aku tau, sepertinya kalau kucing saya begini dulu dia minta kawin atau habis lihat kucing cewek. Yah kesimpulan saya ni anjing minta dikawinkan, atau mau minta kawin sama saya. ±}§×÷π{]℅℅Δ arrgh.

 Selanjutnya, niat saya adalah berjalan ke semua sisi lokasi taman lele ini. Saya lihat ada jalan memanjang lurus kedepan dan dikanan-kirinya taman berumput hijau. Didepan menghadang pohon-pohon tinggi nan sejuk. Dikiri jalan saya lihat ada semacam kolam luas, seperti kolam pancing. Iya ini mungkin isinya lele kali. Disudut-sudut kolam terlihat dilengkapi gazebo untuk tempat duduk-duduk.

Kolam pancing

 Saat itu ada beberapa orang pemuda sedang mancing dan kongko-kongko, mereka terlihat malah seperti dari kampung-kampung sebelah aja. Melihat jumlah mereka ga sama dengan motor yang ada diluar yang hanya sedikit, saya yakin mereka datang dengan berjalan kaki.

 Kami berdua jalan malah yang jadi perhatian mereka, malah saya ngerasa orang asing. Kenapa ya dipikiran saya sepertinya mereka juga jarang ngelihat pengunjung, bener-bener deh parah.

Jalan berpaving nyaman

Disebelah kanan ada kurungan, wah ternyata ada satwanya juga, isinya burung kalkun kalau ga salah identifikasi, hehe. Kasihan juga kondisi kandangnya lagi-lagi mengenaskan. Hewan lainnya yang saya temukan lagi asik bergelantungan yaitu monyet satu ekor. Cuma itu, hedewh. Ga tau anjing yang tadi nyambangin saya itu termasuk kehitung satwa disitu enggak.

 Oiya disitu ternyata juga tampak ada kolam renang, tapi kelas buat jeburan anak-anak, terlihat ada permainannya. Kalau kita teruskan jalan di rute itu sampai seperti sebuah taman yang ada ayunan dan semacamnya. Disana saya ngelihat ada pengunjung lain, ini yang membuat lega. Pengunjungnya muda-mudi gak jelas tujuan mereka hanya berduaan sepertinya. Bukan foto-foto.

Yang menarik perhatian saya adalah semacam pohon besar yang dibawahnya ada gua dan airnya, entah apa namanya mungkin ini mata air. Ada kok cerita di balik ini, sebentar ya saya browsingkan dulu. Hehe. Nah ini dah ketemu,

 ***Dikutip dari suaramerdeka.com, nama Taman Lele ternyata berkaitan dengan sejarah tempat itu. Konon sebutan Taman Lele muncul karena ada kolam yang dihuni beberapa ekor lele. Kolam yang ada di bawah pohon besar itu, bagi orang awam sepintas biasa-biasa saja. Namun bagi orang-orang yang punya daya linuwih, bisa melihat bahwa kolam itu dihuni pula oleh lele siluman. Kepalanya seperti lele-lele pada umumnya, tetapi tubuhnya hanya terdiri dari duri.

 Air kolam itu berasal dari sebuah mata air yang persis berada di kaki bukit. Konon, dulu air dari tempat itu sering digunakan warga sekitarnya untuk keperluan hidup sehari-hari. Bahkan, sawah yang dulu berada di sebelah utara jalan raya, juga mendapat aliran dari tempat tersebut.

 Mata air itu dipercayai warga dihuni seorang siluman, bernama Sarinah. Oleh warga, nama itu kemudian biasa disebut Nyi Tuk Sari. Tuk adalah bahasa Jawa yang berarti sumber mata air.

 Setiap kali akan punya hajatan mantu, warga sekitar taman selalu datang dan sambil membawa sesaji. Mereka percaya, jika hal itu tidak dilakukan, acara yang diadakan tidak akan berhasil.

 Mata air tersebut memang dipercaya bisa mendatangkan berkah. Karena itulah, pada malam-malam tertentu, seperti Jumat Kliwon, banyak yang mencari berkah di tempat itu***

 Nah setelah browsing dikit tentang taman lele, saya nerusin ke jalan setapak yang disediakan suasananya semakin diterusin semakin liar, agak menakutkan kalau saya bilang. Bahkan ketika mau diteruskan jalan berpaving yang tadinya buat jalan-jalan enak sekarang jadi tambah rusak dan malah berubah jadi jalan setapak. Ada jalan yang berbelok agak mendaki dengan anak tangga yang tak beraturan, bikin males aja, tampaknya ada lokasi diatas. Jelas gak ada yang menarik diatas sana, kecuali mau uji nyali pas malam-malam, cocok deh.

 Masih dalam nuansa terbengong-bengong melihat jalan setapak yang menuju tempat antah berantah, saya pun memutuskan untuk menyerah, mengakhiri semua perjalanan dan keingintahuan saya. Yah emang apa yang bisa diharapin dengan uang 3000 jaman sekarang. Tiket murah, gini-gini doank, dapat hiburan bagus, ngimpi.

 Sesaat setelah memutuskan untuk pulang, saya berdua disapa sama ibu-ibu yang berjalan ke arah kami. Dia menyapa “mas, naik sana ke atas, itu masih ada tempat diatas”. Istri saya polosnya nanya “diatas ada pemandangan apa buk?”

Si ibunya jawab, “ya kayak gini ini tapi diatas” ibunya sambil jalan ke arah jalan setapak antah berantah.

 Istriku nanya ke ibu-ibu itu “lha ibuk sekarang mau kemana?”, si ibu menjawab sambil tertawa “saya mau pulang, itu rumah saya lewat situ bisa”. Oh ternyata jalan itu tembus perkampungan belakang area taman lele. Bener dugaan saya pemuda-pemuda yang tadi banyak pada nongkrong dan mancing itu pasti asalnya dari jalan setapak ini, dari belakang, gak mungkinlah mereka dengan culunnya bayar lewat loket seperti saya dari depan.

 Seraya sambil pergi ibunya dengan ramah nawarin duduk-duduk diwarungnya. Oh saya paham dia punya lapak disana, bahkan kata dia kalau siang tadi saya nyewakan tiker.

 Oh saya jawab “oh terimakasih bu, gak usah” Sambil meninggalkan kami si ibuknya masih nyahut “dah naik aja disana mas, masih ada tempat diatas,, jangan disini!” agak ada nada penegasan.

 Saya kurang faham perkataan ibuknya yang terakhir “jangan disini”, saya masih belum paham karena pikiran saya selalu positip. Mungkin dia mau bilang jangan jalan-jalan sampai sini aja mas, diatas pemandangannya bagus.

 Setelah si ibu nya ga nampak lagi, kata istri saya dia ngelihat pergerakan sesuatu di atas lokasi kami berdiri. Kalau saya sih karena mata cenderung burem karena minus. Sepertinya emang ada orang dikawasan atas kami berdiri, iyah bener ada orang berduaan mojok, ketutupan semacam plastik MMT. Ooh barusan saya maksud ibuknya tadi mungkin akan mbilangin saya yang belum pernah kesini mau pacaran, atau *mesum* itu jangan di sini, ini tengah jalan, iya jalan pulang rumah saya. Itu maksud ibunya tadi.

 Hedeh belum lagi nemu apa bagusnya tempat ini malah udah nemuin yang jelek-jeleknya. Dengan niat yang lebih mantab saya pulang deh, ternyata emang bener kampung wisata ini buruk. Saya sudah buktikan sendiri. Sangat disayangkan, harusnya pemerintah setempat lebih mengurusi tempat-tempat yang berpotensi gini. Dengan langkah gontai saya pulang deh, yang penting udah pernah menginjakkan ke tempat ini dan cukup sekali. Harusnya pemerintah bikin-bikin event menarik disini, seperti kuliner durian, atau kumpul-kumpul pecinta satwa. Jangan dangdutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *